BPPSI Pekanbaru

Studi Global Value Chain dan Teknologi Produk Karet

Pekanbaru, Desember 2018

Tim Penyusun:

  • Prof. Ir. Yazid Bindar, M.Sc., Ph.D.
  • Dr. Ir. Bahruddin, M.T.
  • Robby Kumar, S.T.
  • Vetrio Monandes, S.T.
  • Dia Sari Permata, S.T.
  • Myra Wardati Sari, S.T., M.T.
  • Russita Martani, S.T.

 

Karet merupakan komoditas perkebunan terbesar kedua di Indonesia setelah kelapa sawit. Selain sebagai sumber lapangan kerja, komoditas ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasuk bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet, seperti Riau. Sebagai negara produsen karet kedua terbesar di dunia pada saat ini, Indonesia berpotensi besar untuk menjadi produsen utama dalam dekade-dekade mendatang, baik di sektor hulu maupun hilirnya. Potensi ini dimungkinkan karena Indonesia mempunyai sumberdaya yang sangat memadai untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, baik melalui pengembangan areal baru, melalui peremajaan areal tanaman karet dengan menggunakan klon unggul terbaru maupun penguatan sektor hilir. Potensi ini akan dapat termanfaatkan dengan baik, hanya jika langkah-langkah strategis penanganan operasionalnya dapat dikoordinasikan dan dilaksanakan dengan baik. Pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan perlu didasarkan pada perencanaan yang lebih terarah dengan sasaran yang lebih jelas serta mempertimbangkan berbagai permasalahan, peluang dan tantangan saat ini maupun ke depan. Kajian rantai nilai global industri karet ini disusun untuk dapat digunakan sebagai referensi awal dalam pengembangan agribisnis karet Indonesia tersebut.

Tujuan pelaksanaan kegiaatan ini adalah untuk mengidentifikasi potensi industri karet secara global, nasional dan regional Riau, menyusun konsep rantai nilai global industri karet Indonesia, mengidentifikasi prospek penerapan konsep rantai nilai global industri karet dan hubungannya dengan ekonomi karet global, nasional dan regional Riau, memberikan informasi tentang industri karet dan teknologi proses dalam produksi karet dan turunannya dalam skala global, nasional Indonesia dan regional Riau, mengidentifikasi permasalahan industri karet secara global, nasional dan regional Riau dan menyusun rekomendasi kebijakan dalam pelaksanaan rantai nilai global industri karet. Secara umum, metode yang digunakan pada penyusunan Rantai Nilai Global Industri Karet adalah metode telaah literatur dan metode survei lapangan. Telaah literatur dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan konsep, sedangkan survei lapangan dilakukan untuk memvalidasi dan melengkapi data yang diperoleh dari survei literatur. Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan tersebut meliputi: kajian tentang potensi industri karet secara global, nasional dan regional Riau; kajian tentang konsep nilai global industri karetIndonesia; kajian prospek penerapan konseprantai nilai global industri karet dan hubungannya dengan ekonomi karet global, nasional dan regional Riau; kajian industri karet dan teknologi proses dalam produksi karet dan turunannya dalam skala global, nasional Indonesia dan regional Riau; survei lapangan melengkapi data industri karet dan produk turunannya; kajian permasalahan industri karet secara global, nasional dan regional Riau; dan penyusunan rekomendasi kebijakan dalam pelaksanaan rantai nilai global industri karet. Kebijakan-kebijakan yang menjadi rekomendasi dalam kajian rantai nilai global ini ditetapkan melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan stakeholder, seperti: pemerintah daerah, kementrian perindustrian, pedagang dan petani karet, pelaku industri hulu/primer, pelaku industri hilir, unit pengolahan dan pemasaran, serta asosiasi pengusaha karet (seperti GAPKINDO).

Kesimpulan umum dari kajian ini adalah: luas perkebunan karet Indonesia merupakan yang terluas di dunia yang mencapai 3,45 Juta Ha dan produksi terbesar kedua setelah Thailand yang mencapai 3,2 Juta Ton per tahun, dimana Provinsi Riau merupakan daerah dengan produksi karet terbesar ketiga di Indonesia setelah Sumatera Selatan dan Sumatera Utara; rantai nilai global industri karet secara umum terdiri dari tiga sektor yaitu sektor perkebunan (terdiri dari proses penanaman, perawatan dan penyadapan), sektor industri hulu/primer (pengolahan karet dari perkebunan menjadi produk setengah jadi berupa crumb rubber, rubber ribbed smoked (RSS) dan consentrated latex) dan sektor industri hilir (proses pengolahan produk dari industri hulu menjadi produk karet); perkebunan karet Indonesia yang terdiri dari 85% perkebunan rakyat menjadi lapangan kerja bagi sebagian rakyat Indonesia dan sebagai penopang ekonomi di daerah-daerah seperti Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau dan Jambi; lebih dari 75% produk industri hulu/primer diekspor dengan nilai ekonomi mencapai US$ 4,77 Millyar; komsumsi karet alam Indonesai didominasi oleh industri ban yang mencapai 70%, dimana industri hilir karet lainnya belum berkembang dengan semestinya, bahkan di Provinsi Riau sendiri belum ada industri hilir karet; produk hilir karet alam yang sudah dikenal luas adalah ban, alat-alat kesehatan (sarung tangan, pipet, selang stetoskop), perlengkapan industri (oil seal, selang, belt conveyor), perlengkapan kendaraan (lis kaca mobil, pedal sepeda dan motor), perlengkapan olahraga (sepatu, bola, pakaian selam), perlengkapan rumah tangga (karpet karet, seal cookwear), rubber NES untuk elektronik dan rubber article (produk karet spesifikasi khusus); produk hilir berbasis karet alam lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan adalah seperti aspal karet, bahan adhesif, bahan aditif pelumas, biosolvent, bahan aditif cat, bahan aditif kosmetik, rubber foam untuk isolator panas dan TPV untuk otomotif; permasalahan di sektor perkebunan karet adalah harga yang murah dan produktivitas yang rendah, yang disebabkan oleh karena kurangnya bibit unggul, usia tanaman yang sudah tua, pengelolaan yang tidak maksimal, dan pengelolaan lahan karet yang kurang terorganisir; permasalahan pada industri hulu/primer karet disebabkan oleh permasalahan di sektor perkebunan dan di sektor industri hilir, terutama karena produktivitas lahan yang kecil dan kualitas bokar yang kurang baik serta monopoli harga karet oleh industri ban; sedangkan permasalahan industri hilir karet adalah konsumsi karet didominasi oleh industri ban (70%) dan masih rendahnya pengembangan industri karet non-ban.

Rekomendasi bagi setiap pemangku kepentingan industri karet untuk meningkatkan nilai ekonomi dalam sistem rantai nilai industri karet tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pemerintah Pusat (Kementerian dan Lembaga terkait)
    1. Penentuan kebijakan tata guna lahan untuk perkebunan karet
    2. Penentuan kebijakan tata niaga industri hilir karet, termasuk pengaturan impor produk karet untuk melindungi produk industri karet dalam negeri
    3. Mendorong penelitian dan pengembangan untuk penyediaan bibit unggul karet
    4. Mendorong penelitian dan pengembangan produk-produk inovatif berbahan baku karet alam
    5. Penentuan kebijakan harga minimal karet di sektor industri primer ke petani
    6. Penentuan kebijakan peningkatan penggunaan karet alam dalam komposisi ban
    7. Penentuan kebijakan terkait industri hilir non-ban, termasuk aspek pemasaran produknya
    8. Sentralisasi industri karet non-ban sebagai upaya peningkatan penggunaan bahan baku karet untuk mengurangi monopoli perdagangan
    9. Pemberian pelatihan keahlian pengelolaan kebun karet kepada petani
    10. Pembangunan sarana dan prasarana pendukung, seperti infrastruktur jalan, energi (gas dan listrik) dan lainnya
  2. Pemerintah Daerah (SKPD terkait)
    1. Pengawasan implementasi kebijakanpada industri karet
    2. Distribusi bibit unggul karet dari lembaga penelitian atau pemerintah pusat ke petani karet untuk revitalisasi dan replanting
    3. Penggalakan revitalisasi dan replanting lahan karet
    4. Pencegahan monokultur sawit, mencegah koversi lahan karet ke sawit.
    5. Pelaksanaan sentralisasi industri karet, diutamakan industri non-ban
    6. Pengembangan industri hilir non-ban, termasuk aspek pemasaran produknya
    7. Mendorong pembentukan koperasi petani karet
    8. Menyediakan penyuluh lapangan untuk memberikan pelatihan kepada petani dan IKM berbasis karet alam.
  3. Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Perguruan Tinggi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Karet, Balai Pengembangan Produk)
    1. Melaksanakan penelitian dan pengembangan bibit unggul dan sistem pengelolaan perkebunan karet yang efektif dan efisien
    2. Pengembangan produk industri hilir non-ban untuk peningkatan penggunaan karet alam, termasuk produk inovatifnya
    3. Mendirikan pilot project pengembangan produk berbasis karet alam
    4. Bekerja sama dengan pemerintah dalam pemberian pelatihan atau penyuluhan pengelolaan sektor perkebunan dan IKM berbasis karet alam
  4. Forum Komunikasi
    1. Pembentukan koperasi atau unit usaha bersama dikalangan petani
    2. Pembentukan IKM berbasis karet alam
    3. Fasilitator pembentukan pasar lelang produk industri berbasis karet alam
  5. Pelaku Industri Karet dan Industri / Jasa Pendukung
    1. Peningkatan persentase penggunaan karet alam dalam ban
    2. Pengembangan produk industri non-ban berbahan baku karet
    3. Peningkatan investasi pada industri-industri karet ban dan non-ban
    4. Peningkatan daya saing produk karet alam untuk pasar domestik dan global, baik segi kualitas, tampilan maupun harga produk
    5. Pengembangan pangsa pasar produk berbasis karet alam
  6. Asosiasi Pengusaha Karet
    1. Mendorong peningkatan persentase penggunaan karet alam dalam ban
    2. Mendorong pengembangan produk industri non-ban berbahan baku karet
    3. Mendorong peningkatan investasi pada industri-industri karet ban dan non-ban
    4. Mendorong peningkatan daya saing produk karet alam untuk pasar domestik dan global, baik segi kualitas, tampilan maupun harga produk
    5. Mendorong pengembangan pangsa pasar produk berbasis karet alam
    6. Mengawasi dan mencegah monopoli oleh salah satu industri
Chat
1
Bantuan
BPPSI Pekanbaru
Hello...